Senja di Januari

sleep,silhouette

Apa kabar senja bulan ini? Januari. Aku lebih sering melihat hujan dan sapaan dari angin ketimbang senyum hangat sang surya yang hendak kembali ke peraduannya. Lalu aku hanya duduk terdiam di sudut ruang yang bersinarkan cahaya lampu. Dari balik jendela, aku menikmati tetesan-tetesan air yang setiap hari mengetuk-ngetuk kaca jendela. Kemudian meninggalkan bulir-bulir air hujan, seperti memberikan motif alami yang menyejukkan.

Menikmati senja dibulan ini, januari, adalah seperti hal yang langka. Tapi sore ini, hujan sedang tak turun menyapa penghuni bumi. Tapi senja juga tak begitu ramah. Mungkin ia masih berselimut dibalik awan. Hanya sekilas cahaya oranye nampak di antaranya.

Duduk terdiam menatap sinar senja dari balik kaca jendela, seperti membentuk silhouette lain. Aku benci mengatakannya, jika senja selalu membuatku teringat dan rindu denganmu. Kisah dari masa lalu yang selalu hadir bersamaan dengan senja. Tapi aku suka mengingatnya. Mengulang-ulang setiap detailnya. Pertemuan singkat yang meninggalkan kesan. Jarak yang membentang diantara ceritanya. Ya.. Tak semua masa lalu harus dilupakan. Bagaimanapun bentuk dan rasanya. Termasuk kamu. Laki-laki senja bersenandung hujan di bulan desember.

Iklan

Compang-Camping Bertahan

Racikan Kata

Processed with VSCOcam with se3 preset

Petir memantak dari kepala merasuk hati seraya aku mengetahui kamu, di sana, tersakiti.

Topan badai menerpa arteri mengisi denyut nadi, menyadari kamu yang ada di luar jangkauanku, bersedih.

Rasanya soda api membasuh luka-luka ketika aku tahu kamu, yang tak tersentuh, sudah pergi.

Bahkan ketika kamu, yang kini bersamanya, bahagia, tetap saja terasa seperti hujan belati menghunus pori-pori hati.

 

Di sini sekarang aku coba bertahan, meski sambil menyeka luka yang harus kutekan.

Darahnya tidak berhenti mengalir, sakitnya tidak kunjung mangkir.

Lalu aku tanyakan pada diri sendiri, mengapa bisa sampai sejauh ini?

Aku terlalu ingin membahagiakanmu, sehingga tak rela kamu bahagia dengan selain aku.

 

Setiap sukamu dengannya, adalah bahagiaku yang terebut.

Setiap tawamu dengannya, setiap bagian jiwaku terenggut.

Setiap kudengar “Ini takdirmu dengannya,” kepasrahanku enggan manut.

Setiap terbayang klise tentang kamu, aku rela perjuangkanmu hingga nyawa dicabut.

 

Bertahan, terus berjalan, menuju kamu yang hati ini putuskan menjadi pilihan.

Meski compang-camping…

Lihat pos aslinya 44 kata lagi