I Love [. . . . .]

11

Jika cinta adalah sebuah keindahan, maka apa aku salah jika aku menyebutmu sebagai salah satu bagiannya? Jika cinta adalah pelangi, maka apa aku salah jika menunjukmu sebagai warna yang paling cerah diantara warna lainnya? Jika cinta adalah senja, maka apa aku salah jika mengatakan bahwa senyummu adalah yang terhangat yang dinanti selepas hari ini berlalu? Jika cinta adalah sebuah kebahagiaan, maka apa berarti aku tak mendapatkannya jika aku tak dapat merasakannya bersamamu? Jika cinta adalah keihklasan, mungkin aku benar.

Mungkin ini salahku. Tak dapat memperjuangkannya sebagai wujud nyata dari sebuah harapan. Hingga akhirnya aku yang kini merasakan sesal yang begitu dalam. Menjadi seorang yang semakin pudar oleh kesempatan yang tersia-sia kan.

Benar jika beberapa cinta harus diperjuangkan. Benar jika beberapa besar diantaranya butuh pengorbanan. Lalu apa yang telah dikorbankan? Selain perasaan yang tumbuh dengan sia-sia. Semakin besar, namun rapuh didalamnya. Untuk apa merawatnya? Jika pada akhirnya perasaan itu sendiri yang akan menghancurkan semua impian dan harapan.

Cinta.. Mengapa tak kau buat saja semua ini menjadi lebih mudah?
Karena yang mudah belum tentu cinta, sayang.

tumblr_lfbf9jbl5h1qbv4sdo1_500-776404

Aku Lelah Beterbangan

tumblr_lhqul4ludc1qf6q2ao1_400

Senja ini, aku menyusuri sepanjang jalan di kota ini. Berputar-putar menikmati matahari sore yang hangat. Pikiranku beterbangan. Mencari-cari apa yang sebenarnya sedang dirasa. Sambil menggumam tentang banyak hal yang telah terjadi dalam seminggu ini, sebulan ini, setahun ini, hingga membuka ingatan yang telah lama terkubur.

Apa aku kehilangan? Hingga aku seperti orang yang sedang mencari. Entah seseorang, entah sebuah jawaban.

Senja selalu memberi kerinduan kepada yang selalu menunggunya disetiap sore. Seperti candu. Membuat perasaan menjadi lebih dalam.

Pikiranku semakin melambung jauh menatap langit. Menerawang sebuah jawaban diantara awan. Entah apa yang ada disepanjang jalan, tak cukup penting untukku. Cukup memandang langit jauh lebih indah.

Aku berputar, berkeliling menyusuri sepanjang jalan kota. Berbelok, berhenti sesuka hati. Bebas. Terlalu bebas. Hingga lepas kendali. Hingga aku lelah. Hingga aku menyadari perlunya sebuah pengikat. Sebuah petunjuk. Sebuah arah untuk jalan pulang.

peluk

Sebuah rumah yang selalu menunggu kita untuk pulang. Menikmati hangatnya pelukan yang lebih hangat dari matahari sore. Disambut dengan kecupan yang melunturkan segala beban. Seperti morfin yang memberikan tenang. Seperti kamu yang hadirnya memberi kekuatan. Seperti rumah yang akan selalu melindungi. Seperti nafas yang selalu memberi kehidupan.