Untuk yang Menjaga dalam Diam

tumblr_lbuqujp3gw1qztjq8o1_1280

Kita adalah dua yang entah akan menjadi apa pada akhirnya. Kita terlalu munafik mengiyakan perasaan yang mungkin akan atau bahkan telah tumbuh diantara celah yang ada. Kita adalah sebuah sayap yang tak bisa terbang sendiri, namun kita memilih untuk diam dan berjalan perlahan. Kita adalah batu yang terlihat keras, namun rapuh bila terlalu lama terabaikan.

Mungkin kita terlalu lelah menabahkan hati. Walau sebenarnya harapan itu selalu muncul saat mata saling bertatap. Aku atau kamu tak lagi dapat bertindak, kalah oleh keadaan. Mungkin kita adalah korban, yang akhirnya hanya bungkam diantara gemuruh manusia lainnya.

Surat Untuk Mantan

letter

Untuk lelaki beraroma aqua di gio. . .

Aku tidak tahu harus memulainya darimana. Aku tidak bisa menulis. Hanya air mata yang bercerita, terbayang kisah lama dengan sosokmu yang penuh misteri. Ditemani hujan dan dinginnya ruang ini, aku semakin menjadi sendu. Seandainya ada jemari lain yang menguatkanku dan secangkir teh manis hangat mungkin aku tak selemah ini. Lama pun susah aku memejam mata, menghilang dari nyata. Sangat dalam. Terlalu sakit hingga enggan mengungkap cerita.
Tapi aku ingin menulis, dan barisan kalimat ini teruntukmu. Untuk kekasih di masa lalu, untuk waktu selama 18.336 jam. Sependek kamu mendapat dia yang baru. Dia yang belum tentu mengertimu, dia yang mungkin lebih dari aku.
Apa kuasaku? Tak ada dan tak bisa. Belakangan ini aku terus mencoba. Mencoba untuk melawan rasa. Mencoba untuk tidak merindumu. Mencoba untuk tidak mencari dan mengenang semua. Hal tentang kita. Aku dan kamu, tidak ada dia atau yang lain. Sudah setahun ini Mas..
Hari itu, selayaknya gadis yang ingin berkencan dengan lelakinya, aku bingung harus memakai pakaian apa, berdandan seperti apa? Harus ku apakan pula rambut panjangku ini? Aku ingin selalu terlihat cantik di matamu. Dari dulu sampai saat kau membaca surat ini, aku masih ingin terlihat cantik di depanmu. Meski aku sadar, aku bukan siapamu lagi.
Ingatkah kamu saat membelai mesra rambut dan punggungku? Ingatkah kamu saat kita bersenandung bersama menyanyikan lagu kesukaan kita dulu? Kamu masih saja melihatku dengan tatapanmu semacam itu, sama seperti dulu. Aku ingat.
Inginku bertanya, apa yang ada dipikirmu saat kau mengenangku? Apa yang membuatmu rindu setelah sekian mudah melepasku dari genggaman yang aku sendiri tak mau melepasnya kala itu? Tapi entah, aku bahagia saat melihatmu berjuang menjaga yang harusnya lebih dijaga. Menjaga lisan, menjaga sikap, menjaga raga dan menjaga hati. Aku menikmatinya.
Menjaga lisan untuk tidak sembarang merayu gadis lain. Menjaga sikap untuk tidak sembarang menggoda gadis lain. Menjaga raga untuk hanya dia yang kamu jaga, untuk dia yang dipelukmu agar selalu merasa aman. Ah tak sekedar aman, ada yakin di dasar benak bahwa dia milik seorang yang tak hanya pelindung tapi juga tulus menyayang. Dan menjaga hati hanya teruntuk dia yang tersayang.
Syukur. Ya hanya itu yang bisa diucap, entah karena aku tahu kita saling mengamati dalam diam atau memang aku yang terlalu berharga untuk lebih melihat diriku menjadi lebih sakit di sampingmu. Tidak mudah membiarkan pergi yang telah lama tinggal di hati. Aku lebih belajar berikhlas diri, dan tidak selalu menggunakan hati.
Bila waktu menakdirkan kita kembali, inginku kau berubah menjadi manis, semanis teh hangat yang ku inginkan saat ini agar aku bisa lebih hangat, dan jemarimu memberiku daya super agar lebih kuat. Karena aku terlalu kuat untuk menangis (lagi)..
Pesanku Mas.. jangan buang surat ini, jangan lupa kenangan kita. Aku tidak memintamu untuk selalu ingat dan tetap tinggal. Aku akan bangkit dan perlahan melupakannya. Semoga bahagia selalu menyertai hidup kita masing-masing. Aamiin.

Dari,

Eka Nurul Fitria

Tulisan ini diikut sertakan untuk lomba #suratuntukruth novel Bernard batubara.