Tanya-Jawab

tumblr_lofhe4zqlq1qcq2hao1_500_large
Terkadang untuk berfikir, manusia membutuhkan waktu. Beberapa diantaranya, bahkan tak cukup dengan waktu yang singkat. Namun sayangnya, terkadang pertanyaan itu enggan untuk bertahan dalam waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya tanya itu pergi tanpa jawaban. Dan saat jawaban itu telah ada, kesempatan tak kunjung datang kembali untuk menjemput jawaban itu.

Surat Untuk Mantan

letter

Untuk lelaki beraroma aqua di gio. . .

Aku tidak tahu harus memulainya darimana. Aku tidak bisa menulis. Hanya air mata yang bercerita, terbayang kisah lama dengan sosokmu yang penuh misteri. Ditemani hujan dan dinginnya ruang ini, aku semakin menjadi sendu. Seandainya ada jemari lain yang menguatkanku dan secangkir teh manis hangat mungkin aku tak selemah ini. Lama pun susah aku memejam mata, menghilang dari nyata. Sangat dalam. Terlalu sakit hingga enggan mengungkap cerita.
Tapi aku ingin menulis, dan barisan kalimat ini teruntukmu. Untuk kekasih di masa lalu, untuk waktu selama 18.336 jam. Sependek kamu mendapat dia yang baru. Dia yang belum tentu mengertimu, dia yang mungkin lebih dari aku.
Apa kuasaku? Tak ada dan tak bisa. Belakangan ini aku terus mencoba. Mencoba untuk melawan rasa. Mencoba untuk tidak merindumu. Mencoba untuk tidak mencari dan mengenang semua. Hal tentang kita. Aku dan kamu, tidak ada dia atau yang lain. Sudah setahun ini Mas..
Hari itu, selayaknya gadis yang ingin berkencan dengan lelakinya, aku bingung harus memakai pakaian apa, berdandan seperti apa? Harus ku apakan pula rambut panjangku ini? Aku ingin selalu terlihat cantik di matamu. Dari dulu sampai saat kau membaca surat ini, aku masih ingin terlihat cantik di depanmu. Meski aku sadar, aku bukan siapamu lagi.
Ingatkah kamu saat membelai mesra rambut dan punggungku? Ingatkah kamu saat kita bersenandung bersama menyanyikan lagu kesukaan kita dulu? Kamu masih saja melihatku dengan tatapanmu semacam itu, sama seperti dulu. Aku ingat.
Inginku bertanya, apa yang ada dipikirmu saat kau mengenangku? Apa yang membuatmu rindu setelah sekian mudah melepasku dari genggaman yang aku sendiri tak mau melepasnya kala itu? Tapi entah, aku bahagia saat melihatmu berjuang menjaga yang harusnya lebih dijaga. Menjaga lisan, menjaga sikap, menjaga raga dan menjaga hati. Aku menikmatinya.
Menjaga lisan untuk tidak sembarang merayu gadis lain. Menjaga sikap untuk tidak sembarang menggoda gadis lain. Menjaga raga untuk hanya dia yang kamu jaga, untuk dia yang dipelukmu agar selalu merasa aman. Ah tak sekedar aman, ada yakin di dasar benak bahwa dia milik seorang yang tak hanya pelindung tapi juga tulus menyayang. Dan menjaga hati hanya teruntuk dia yang tersayang.
Syukur. Ya hanya itu yang bisa diucap, entah karena aku tahu kita saling mengamati dalam diam atau memang aku yang terlalu berharga untuk lebih melihat diriku menjadi lebih sakit di sampingmu. Tidak mudah membiarkan pergi yang telah lama tinggal di hati. Aku lebih belajar berikhlas diri, dan tidak selalu menggunakan hati.
Bila waktu menakdirkan kita kembali, inginku kau berubah menjadi manis, semanis teh hangat yang ku inginkan saat ini agar aku bisa lebih hangat, dan jemarimu memberiku daya super agar lebih kuat. Karena aku terlalu kuat untuk menangis (lagi)..
Pesanku Mas.. jangan buang surat ini, jangan lupa kenangan kita. Aku tidak memintamu untuk selalu ingat dan tetap tinggal. Aku akan bangkit dan perlahan melupakannya. Semoga bahagia selalu menyertai hidup kita masing-masing. Aamiin.

Dari,

Eka Nurul Fitria

Tulisan ini diikut sertakan untuk lomba #suratuntukruth novel Bernard batubara.

Aku Lelah Beterbangan

tumblr_lhqul4ludc1qf6q2ao1_400

Senja ini, aku menyusuri sepanjang jalan di kota ini. Berputar-putar menikmati matahari sore yang hangat. Pikiranku beterbangan. Mencari-cari apa yang sebenarnya sedang dirasa. Sambil menggumam tentang banyak hal yang telah terjadi dalam seminggu ini, sebulan ini, setahun ini, hingga membuka ingatan yang telah lama terkubur.

Apa aku kehilangan? Hingga aku seperti orang yang sedang mencari. Entah seseorang, entah sebuah jawaban.

Senja selalu memberi kerinduan kepada yang selalu menunggunya disetiap sore. Seperti candu. Membuat perasaan menjadi lebih dalam.

Pikiranku semakin melambung jauh menatap langit. Menerawang sebuah jawaban diantara awan. Entah apa yang ada disepanjang jalan, tak cukup penting untukku. Cukup memandang langit jauh lebih indah.

Aku berputar, berkeliling menyusuri sepanjang jalan kota. Berbelok, berhenti sesuka hati. Bebas. Terlalu bebas. Hingga lepas kendali. Hingga aku lelah. Hingga aku menyadari perlunya sebuah pengikat. Sebuah petunjuk. Sebuah arah untuk jalan pulang.

peluk

Sebuah rumah yang selalu menunggu kita untuk pulang. Menikmati hangatnya pelukan yang lebih hangat dari matahari sore. Disambut dengan kecupan yang melunturkan segala beban. Seperti morfin yang memberikan tenang. Seperti kamu yang hadirnya memberi kekuatan. Seperti rumah yang akan selalu melindungi. Seperti nafas yang selalu memberi kehidupan.

Malamku Malam Ini

bench-landscape-moon-photography-scene-Favim.com-334141

Malam tak pernah segelap ini. Sejak ku sadari terang matamu berhenti menyinari malamku. Sunyi yang semakin membisu, terasa menusuk sejak suaramu tak lagi terdengar hangat memelukku. Bintang yang seharusnya temani, pun seolah enggan tampak mendampingi sang rembulan. Hanya awan mendung yang menghias langit malamku beraromakan kenangan. Sepoi angin malam yang membawa kerinduan menyelimuti dan menyesakkan. Gesekan antar dedaunan diranting pohon seakan mencibir tentang ego yang pelan-pelan merasuk dasar hati. Mengotori jiwa yang enggan untuk merelakan yang tak ingin dimiliki.

Adakah seuntai harapan penghangat malam ini? Juga sebagai penerang penunjuk jalan pulang. Harapan selalu menabahkan, tapi terkadang juga menjatuhkan. Nyatanya manusia selalu dibohongi oleh harapan-harapan yang dibangunnya sendiri. Sedangkan semesta tak pernah memberi janji. Semesta hanya memberikan kenyataan yang sebenar-benarnya kebenaran.

Adakah lagi penikmat malam ini? Yang sama-sama menghirup udara kenangan. Belajar mengenai keikhlasan. Melepas dan membiarkan kebahagiaan menemukan jalannya. Entah dengan siapa, bagaimana dan dimana kebahagiaan terhenti langkahnya.

Kepada Penikmat Senja

SENJA

Merah.. Orens.. Jingga.. Ungu..

Manis sekali. Perpaduan warna penghasil senyuman. Dan sepertinya aku rindu warna itu. Atau mungkin pada seseorang dibaliknya? Warna yang dulu mengingatkanku pada dirinya. Bahkan mungkin sekarangpun masih sama seperti dulu. Dirinya yang lain yang sekarang mungkin telah menemukan kebahagiaan yang lebih nyata dan utuh. Dia yang pertama membangunkan imajinasiku bahwa sekumpulan warna itu bisa berarti lain. Menciptakan banyak kalimat dan warna baru lainnya. Dia yang sedikit banyak telah membuatku lebih membuka mata saat silaunya sinar matahari sore menerpa bumi.  Seperti sebuah tanda peringatan bahwa masih banyak yang bisa dilihat dibaliknya. Bahwa senja adalah sebuah awalan yang baru di akhir terbenamnya matahari di hari itu. Bahwa senja yang singkat itu terlalu nikmat untuk diabaikan begitu saja. Ya.. Dia telah menguraikan cukup banyak cerita yang bersaksikan matahari sore. Memberi terang yang lain. Yang hangat. Seperti sebuah pelukan. Yang aku anggap itu pelukan darinya yang berada diantara jarak. Pelukan yang dia titipkan pada senja setiap harinya, dulu. Ya.. dulu.