Aku Lelah Beterbangan

tumblr_lhqul4ludc1qf6q2ao1_400

Senja ini, aku menyusuri sepanjang jalan di kota ini. Berputar-putar menikmati matahari sore yang hangat. Pikiranku beterbangan. Mencari-cari apa yang sebenarnya sedang dirasa. Sambil menggumam tentang banyak hal yang telah terjadi dalam seminggu ini, sebulan ini, setahun ini, hingga membuka ingatan yang telah lama terkubur.

Apa aku kehilangan? Hingga aku seperti orang yang sedang mencari. Entah seseorang, entah sebuah jawaban.

Senja selalu memberi kerinduan kepada yang selalu menunggunya disetiap sore. Seperti candu. Membuat perasaan menjadi lebih dalam.

Pikiranku semakin melambung jauh menatap langit. Menerawang sebuah jawaban diantara awan. Entah apa yang ada disepanjang jalan, tak cukup penting untukku. Cukup memandang langit jauh lebih indah.

Aku berputar, berkeliling menyusuri sepanjang jalan kota. Berbelok, berhenti sesuka hati. Bebas. Terlalu bebas. Hingga lepas kendali. Hingga aku lelah. Hingga aku menyadari perlunya sebuah pengikat. Sebuah petunjuk. Sebuah arah untuk jalan pulang.

peluk

Sebuah rumah yang selalu menunggu kita untuk pulang. Menikmati hangatnya pelukan yang lebih hangat dari matahari sore. Disambut dengan kecupan yang melunturkan segala beban. Seperti morfin yang memberikan tenang. Seperti kamu yang hadirnya memberi kekuatan. Seperti rumah yang akan selalu melindungi. Seperti nafas yang selalu memberi kehidupan.

Senja di Januari

sleep,silhouette

Apa kabar senja bulan ini? Januari. Aku lebih sering melihat hujan dan sapaan dari angin ketimbang senyum hangat sang surya yang hendak kembali ke peraduannya. Lalu aku hanya duduk terdiam di sudut ruang yang bersinarkan cahaya lampu. Dari balik jendela, aku menikmati tetesan-tetesan air yang setiap hari mengetuk-ngetuk kaca jendela. Kemudian meninggalkan bulir-bulir air hujan, seperti memberikan motif alami yang menyejukkan.

Menikmati senja dibulan ini, januari, adalah seperti hal yang langka. Tapi sore ini, hujan sedang tak turun menyapa penghuni bumi. Tapi senja juga tak begitu ramah. Mungkin ia masih berselimut dibalik awan. Hanya sekilas cahaya oranye nampak di antaranya.

Duduk terdiam menatap sinar senja dari balik kaca jendela, seperti membentuk silhouette lain. Aku benci mengatakannya, jika senja selalu membuatku teringat dan rindu denganmu. Kisah dari masa lalu yang selalu hadir bersamaan dengan senja. Tapi aku suka mengingatnya. Mengulang-ulang setiap detailnya. Pertemuan singkat yang meninggalkan kesan. Jarak yang membentang diantara ceritanya. Ya.. Tak semua masa lalu harus dilupakan. Bagaimanapun bentuk dan rasanya. Termasuk kamu. Laki-laki senja bersenandung hujan di bulan desember.